SULTHAN MUHAMMAD ULAMA PULAU KAMPAI

SULTHAN MUHAMMAD ULAMA PULAU KAMPAI

Oleh: Baihaqi

PENDAHULUAN

Disaat penulis berkunjung ke pulau Kampai, ada satu hal yang sangat menarik. Tetapi bukan angin pantai dan riak air yang mengalum lembut, begitu juga dengan udang-udang kecil berlompatan, melainkan dengan satu informasi yang diberikan oleh teman saat kami tiba di pulau Kampai. Disebabkan oleh rasa penasaran, penulis mengajak teman tersebut untuk datang langsung ke tempat yang tadi disebutkan.. Tujuan penulis, ingin melihat secara langsung terhadap informasi yang diberikan, makam seorang ulama, begitu gambarannya. Karena desakan penulis, teman tadi pun mengantar penulis ke lokasi.

MAKAM PANJANG

Saat tiba di lokasi, penulis melihat ada dua makam yang berukuran panjang. Menurut pandangan penulis, yang satu berukuran sekitar delapan meter, di sampingnya berukuran lebih kurang enam meter. Setelah puas melihat-lihat, penulis mulai bertanya. Pertama, siapa nama beliau, dari mana asalnya, sejak tahun berapa beliau di pulau Kampai, apa kegiatan beliau dan apakah beliau seorang perantau? Jawaban yang pertama diberikan adalah, nama beliau sering disebut dengan “Teuku Keramat Panjang”. Nama ini lazim disebut masyarakat karena memang makam beliau berukuran panjang, suatu ukuran yang tidak lazim. Melihat kondisi makam, penulis pikir logis juga, karena makam yang penulis lihat sesungguhnya memang panjang. Oleh karena itu wajar kalau digelar dengan nama itu. Penulis masih kurang puas, karena setiap orang pasti ada nama asli. Teman yang penulis tanya ternyata juga tidak tahu, dia masih berpegang pada nama sebutan yang juga biasa disebut oleh masyarakat sekitar. Ternyata pertanyaan tersebut sangat sukar untuk ditemukan jawabannya. Akhirnya, penulis dan teman tadi keliling kampung Pulau Kampai untuk mencari siapa nama beliau yang sebenarnya. Namun sayang, hampir dua jam kami mencari dan bertanya pada orang tua di pulai Kampai, jawaban tetap tidak kami temukan, mereka juga selalu menyebut dengan nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka.

NAMA DITEMUKAN DI LANGSA

Dengan perasaan tidak puas dan gundah, kami kembali ke Langsa. Namun pertanyaan tentang siapa beliau sebenarnya tetap tersimpan dalam hati, termasuk dari mana beliau dan sebagainya. Alhamdulillah, setelah penulis berbicara dengan salah seorang ulama yang ada di Langsa, penulis menemukan jawaban dari semua pertanyaan yang penulis ajukan. Nama asli dari yang disebut Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Beliau berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Disaat tiba di pulau Kampai, beliau berumur 13 tahun dan menetap di pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Aktifitas beliau di pulau Kampai adalah sebagai pedagang, seperti jual-beli emas, kain, mengirim kayu bakau ke Jepang (pada saat itu kulitnya dijadikan bahan pembuat kain). Dalam perdagangan tersebut beliau bermitra dengan orang-orang Cina. Di samping sebagai pedagang, beliau juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di pulau Kampai. Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di pulau Kampai, istri beliau bernama “Siti Bahara Silalahi”. Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang kayu arang dan hasil produksi beliau kirim ke Malaysia. Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.

HUBUNGAN DENGAN ULAMA ACEH

Dari hasil wawancara, Teuku Sulthan Muhammad yang masyarakat mengenalnya dengan Teuku Keuramat Panjang, telah memiliki hubungan erat dengan ulama-ulama Aceh (namun tidak dapat penulis cantumkan karena tidak mendapat izin). Sebagai bukti sejarah, disaat beliau meninggal dunia, jasad beliau ulama Aceh yang urus, termasuk batu karang yang ada di makam beliau. Menurut keterangan yang penulis himpun, batu karang yang ada di atas makam tersebut berasal dari “Glee Geulungku” Aceh Utara, (nama salah satu daerah Aceh), tepatnya di Kecamatan Pandrah (sekarang Aceh Jeumpa). Termasuk penambahan nama pada istri beliau, dari Siti Bahara Silalahi menjadi “Cut Nya’ Siti Bahara Silalahi. Teuku Sulthan Muhammad meninggal pada abad ke 17 M, setahun kemudian menyusul Cut Nya’ Siti Bahara Silalahi.

PENUTUP

Menurut penuturan masyarakat, masyarakat luar banyak yang berdatangan ke makam Teuku Sulthan Muhammad, keperluannya macam-macam. Namun jelasnya, pulau Kampai bukan saja dijadikan sebagai obyek wisata oleh masyarakat sekitar dan masyarakat luar, melainkan ada juga yang melepas nazar. Namun yang terpenting dari apa yang telah penulis tuturkan, hendaknya masyarakat dapat memelihara tempat tersebut dengan sebaik-baiknya, terutama menjaga kebersihan sekitar makam. Baru kemudian merenovasi bangunan makam yang terkesan tak terurus. Dengan bagusnya tempat tersebut maka akan bertambah lapang dada pengunjung yang ingin melihat langsung makam Teuku Keramat Panjang. Apalagi Teuku Sulthan Muhammad memiliki hubungan dekat dengan para ulama Aceh dalam rangka dakwah Islamiyah untuk membina masyarakat mengenal Khaliknya. Semoga!

Penulis: Direktur LPSA

11 Responses to “SULTHAN MUHAMMAD ULAMA PULAU KAMPAI”


  1. 1 Herman November 23, 2007 pukul 9:48 am

    Wah, ternyata asyik juga membaca sejarah para da’i yang menyebarkan islam di Aceh. Namun sangat disayangkan, sumber2 rujukan seperti nama ulama di langsa dan di aceh yang ada kaitannya dengan cerita ini tidak disebutkan. padahal itu menjadi penentu apakah artikel ini apakah fiksi atau fiktif.

    Dan dalam kajian hadits, penyembunyian sumber itu sudah termasuk berita atau hadits dhoif. Bisa termasuk Mursal atau mungqathi’.

    Salam dari kami. tetap berjuang. Ini hanya sekedar masukan.

  2. 2 lowonganker99 Oktober 21, 2008 pukul 1:59 pm

    Assalamu’alaikum, wr wb,
    sebelumnya saya cukup senang dengan blog kamu, isinya bagus, dan karyanya menarik dan dinamis, dan bermanfaat. oleh karena itu saya lagi coba bekarya melalui blog saya, terima kasih teman..
    salam kenal saya buat semua komunitas blogger dan pecinta dunia internet, dan semua teman yang ada di alam dunia manya ini dan pengunjung semuanya, semoga kita sama sama dapat membangun Aceh untuk lebih maju baik dari metalitaskah atau dari berbagai sisi lain dengan memberikan sedikit ilmu dan waktu kita untuk orang orang yang sangat membutuhkan uluruan tanga kita diluar sana yang tiap hari mengakses dunia manya, salam buta semua teman yang telah membantu saya dalam mengenal blogging.
    semoga ini menjadi tali persaudaraan diantara kita untuk mejadikan ukhwah saling tukar informasi, komunikasi, pengetahuan, pengalaman dan wawasan dalam membangun pribadi yang baik untuk saling keterbukaan rasisi positif terhadap suatu peroalan generasi kedepan serta dapat menjalin persaudaraan dengan penuh warahmah.
    Bagi yang mau bantu menyebarkan informasi lowongan kerja, baik buat teman, saudara maupun komunitas anak internet, maupun personality.
    kunjungi blog gue di
    http://lowonganker99.wordpress.com
    Terima kasih, salam kenal buat semuanya..!!
    By, Computer

  3. 3 anak bangsa Januari 9, 2009 pukul 8:35 am

    saya pernah punya pengalaman yg sama berkunjung ke Pulau Kampai dan sempat berjiarah ke Makam Panjang tersebut dan dua makam tua yg ukurannya standard seperti mana makam yg kita temui dimana2,letak makam tersebut tidak jauh dari makam panjang tersebut kira kira 100-150 meter ditengah tengah pemukiman masyarakat.(photo di http://rezalubis.blogspot.com)

  4. 5 reza lubis Januari 9, 2009 pukul 11:13 am

    maaf dan mohon izin saya kutip bagian artikel ini,terima kasih

    Salam saya dari Medan Anak Bangsa yg merindukan “Indonesia Bersih”
    http://rezalubis.blogspot.com/2008/12/selayang-pandang-pulau-kampai-pulau.html

  5. 6 sufijan,se Juli 13, 2009 pukul 2:47 am

    salam kenal dan salam terima kasih saya dengan penulis yg luar biasa semangatnya mencari tahu asal usul nama datok keramat panjang,saya 1970 lahir disana dan 4generasi diatas saya juga lahir disana,saya bangga punya teman yg mau menaikan berita mengenai keindahan pulau kampai jangan lupa disana juga ada makam MAS MERAH 2sejoli yg punya cinta sejati yg bisa di muat di media ini.mengenai datok keramat panjang udah lama kita ketahui sampai sekarang asal usulnya tak bisa dibuktikan dari buyut saya pun tak ada yg tahu sebenarnya asal usul dan namanya.kalau bisa tolong di perjelas lagi dan mengenai mas merah makamnya di depan seberang jalan makam datok panjang.guru saya pak alm ismail ada berkas cerita asal usul mas merah boleh di cari tahu ke anaknya salah satu guru saya dulu di SMP PGRI32.terima kasih salam persaudaraan dan sehat selalu wasallam sufijan pekan baru

  6. 7 hermansyah Januari 8, 2011 pukul 5:23 am

    menurut saya masalah makam yang panjangnya 8meter itu bukanlah hal yang harus dijadikan alasan mengapa banyk orang yang penasaran untuk datang dan berziarah ke makam itu. tetapi harus kita cerna betul/ di kaji apakah jenazah yang di kubur didalamnya bener-benar panjangnya sama dengan makamnya? dan harus di teliti apakah didalamnya bener-benar ada jenazahnya? bagi orang yang pernah berziarah ke makam itu apa yang dilakukannya, siapa yang di do’akannya sedangkan dia saja tidak tau siapa jasad yang dikubur di makam itu. jangankan orang yang diluar pulau kampai, penduduk sekitar saja tidak tau asal usul/sejarah dari keberadaan makam tersebut.

  7. 8 don bang yong idrus Mei 15, 2011 pukul 11:04 am

    saya asal dari langkat banyak fakta langkat pada saya please kol +60102727275

    • 9 kodrat wisnu sugeng September 30, 2011 pukul 2:00 am

      Aslmku bg Idrus…salam kenal saya tertarik dengan fakta /data tentang langkat,saya telah mencoba menghub8ungi bg idrus via nmr telp yg di blog abang tapi sulit nyambungnya..bagaimana saya bisa ktemu langsung dengan bg Idrus. Saya Dosedn di Akedemi Pariwisata Negeri medan,jl RS haji No 12. telp saya 08197912350.besar harapan saya kita bisa ketemu.wasalam Kodrat wisnu.

  8. 10 pulau tidung November 20, 2014 pukul 2:25 am

    It is really a nice and helpful piece of information. I’m satisfied that you just shared this helpful info with us.
    Please stay us informed like this. Thanks for sharing.


  1. 1 Selayang pandang Pulau Kampai – Pulau Sembilan « Reza Lubis Lacak balik pada Juni 17, 2011 pukul 10:56 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Selamat Datang

Di Website LPSA
Lembaga Penelitian Sejarah Aceh
Alamat sekretariat:
Jl. Meurandeh, Kota Langsa.
E-Mail : lpsaceh@yahoo.com

Jumlah Pengunjung

  • 25,936 hits

Pengunjung Dari


Google Statistik for me
Status Anda :
IP
Peta Asal Pengunjung

%d blogger menyukai ini: